![]() |
source : |
Masa-masa
sekarang ini, kalimat pendek ‘Gagal Fokus’ adalah salah satu kalimat yang masuk
kelompok, sangat populer. One of the most famous word[1]
dalam percakapan di dunia maya. Entah itu sebagai hastag atau sekadar bumbu
dalam obrolan. Kalimat pendek ini bahkan lebih fenomenal dibanding ‘Cetar
Membahana’ atau ‘demi Tuhan’ yang sempat mencetak nama besar dalam ranah
percakapan. Yang terbaru adalah 'Disitu kadang saya merasa sedih.' yang agak kepanjangan, sehingga sering terlalu memaksa dijadikan bagian dari percakapan.
Mungkin[2],
karena ‘Cetar Membahana’ terlalu lekat dengan seorang artis yang menurut saya
sebenarnya cantik, kalau mau mengurangi kuantitas tata riasnya dan fokus pada
kualitas. Sedangkan kalimat ‘demi Tuhan’, agak kurang nyaman digunakan. Karena
sebagai orang timur, yang berbudaya, beragama, terdidik dan baik akhlaknya,
kita semua paham, tidak baik bawa-bawa nama Tuhan sembarangan.
Jadi
menarik ketika bicara soal Gagal Fokus, ketika hal itu justru dilakukan oleh
pengambil kebijakan. Dan contoh menariknya baru saja terjadi beberapa waktu kemarin.
Menonton
televisi, dengan terkejut saya melihat berita tentang hilangnya pesawat Air
Asia di atas perairan Indonesia. Semenajung melayu dan sekitarnya masih belum
pulih dari tragedi sejenis yang menimpa dua pesawat Malaysia[3]
lainnya.
Rasa
duka saya kian besar ketika kemudian, setelah pencarian besar-besaran. Pesawat
itu ternyata telah jatuh. Dunia kembali berduka. Menambah daftar duka yang
besar. Pembantaian di Suriah dan Yaman, juga konflik di beberapa negara Asia.
Palestina masih menderita. Di Afrika kehidupan kembali bergolak. Banyak, sangat
banyak.
Dan
mendadak di tengah segala duka itu. Salah satu menteri mengeluarkan penyataan,
akan menghapus tiket murah. Dan siap mengalihkan penumpang yang menggunakan
jasa tiket murah kepada armada kereta api.
Salah?
Jelas salah, donk.
Tiket
murah hubungannya ke pelayanan. Bukan ke kualitas penerbangan. Karena untuk
maskapai penerbangan, pesawat dan perawatannya itu punya standar yang tak bisa
ditawar. Tidak terpenuhi, dijamin dicabut izin beroperasinya. Sedangkan soal
tiketnya kenapa murah, karena tidak ada biaya yang mesti disiapkan maskapai
untuk memberikan pelayanan dan berbagai fasilitas mewah. Maskapai penerbangan
dengan tiket murah, tujuannya hanya satu, memastikan soal penumpang sampai ke
tempat tujuan. Kalau mau cari kenyamanan, duduk enak, makanan mewah, layanan
berkelas. Silahkan naik maskapai lain. Dan bayar tiket beserta layanan itu.
Yang
lebih asyik lagi, pengalihan ke kereta api. Jadi pertanyaan, berapa luas
jangkauan jaringan kereta api di negeri luas bernama Indonesia ini? Kami di
Aceh saja, sempat merasakan punya kereta api itu dulu, sebagian besar dalam
rentang waktu ketika masa penjajah Belanda berusaha keras menguasai Aceh,
sebegitu kerasnya sampai mencatat Perang Aceh, sebagai salah satu perang yang
paling mahal dan merugikan Belanda. Ketika Indonesia terbentuk, dan Aceh
bergabung dengan Indonesia, malah kereta api secara bertahap menghilang. Tinggal
sepotong-sepotong.
Itu
baru soal jaringan rel kereta dan fasilitasnya. Belum lagi kalau dibahas soal jarak
antar pulau, penyeberangannya bagaimana?
Ini
asli Gagal Fokus yang luar biasa.
Fokus
masalahnya, untuk kasus ini, adalah pembenahan layanan transportasi publik. Karena
tanpa berbagai kecelakaan pun, masalah kualitas layanan publik memang sudah
masuk ke tahap, mengerikan. Tapi sering betul yang dilakukan hanyalan jalan
pintas, yang bahkan tak jarang tanpa kajian ilmiah apapun.
Indonesia
memang negeri yang sedang mengalami gagal fokus nasional. Gangguan parah, yang
semakin parah dengan hadirnya para pengobar api perdebatan. Diberbagai media
sosial, banyak orang yang dengan sengaja menebar perpecahan, perdebatan,
mengompori permusuhan dan lainnya. Sayangnya, masyarakat Indonesia, adalah
masyrakat pemula dalam bersosial media.
Ditambah
lagi dengan masih belum hilangnya eforia kekebasan berpendapat, yang mendadak
dimiliki oleh masyarakat, setelah puluhan tahun tak tahu kemana harus
menyuarakan isi pikirannya yang jenuh dengan berbagai beban hidup.
Social media dan perkembangan teknologi selular, tiba-tiba menyediakan tempat
untuk eksis. Tempat untuk bicara. Tempat untuk meneriakkan uneg-uneg. Atau
sekedar pelampiasan karena dalam kehidupan nyata mungkin tidak dianggap ada.
Maka
terbukalah forum debat dimana-mana. Dibumbui caci maki, dan akhirnya berujung
dengan kebencian. Ironisnya, kebencian yang sering sekali muncul dari dunia
maya, dengan seorang yang tidak dikenal secara fisik, hanya nama diujung lain
dari sinyal, malah ditumpahkan kepada orang nyata yang ditemukannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Gagal
Fokus. Bukan hanya soal transport. Ada banyak betul yang jadi masalah. Termasuk
juga satu hal kecil. Kebiasaan kita, yang sekarang terlatih untuk mencari yang
jelek, yang tidak baik, yang buruk. Fokusnya semestinya kan cari solusi. Karena
sangat mudah untuk mengkritik, tapi jauh lebih sulit untuk mengkritik dan
mencoba beri solusi.
Seperti
minum bandrek. Minuman tradisional yang enak diminum ketika dingin udara atau
tenggorokan tak nyaman, bisa juga saat masuk angin. Tak perlu jadi orang pintar
untuk menikmati bandrek, dan tidak bermasalah dengan mesti menengadah,
menunggingkan gelas, menepuk-nepuk agar kacangnya turun tak melekat di dasar
gelas.
Kalau
sejak awal fokusnya kacang, maka mestinya ada kesadaran untuk ambil tindakan.
Menjelang teguk terakhir, pintar-pintarlah mengaduk airnya. Hingga kacang
bergerak, terangkat dari dasar gelas, dan ikut tegukan terakhir.
Fokus
bangsa ini, harusnya di soal kerja perbaikan. Karena tak sulit lagi cari
kesalahan, sudah banyak yang mencarikannya.
[1] Kalau
ada kesalahan secara tata bahasa harap maklum, saya kurang ahli bahasa Inggris.
[2] Ini masih
mungkin ya, belum dilakukan pembuktian dengan empat tahapan metode ilmiah. Maaf juga kalau mungkin gak up to date, istilah-istilah ini semuanya hanya numpang lewat bagi saya. Tidak jadi pengetahuan wajib.
[3] Karena
lagi-lagi yang kena Malaysia, beberapa teori bermunculan. Termasuk upaya
melemahkan Malaysia sebagi kekuatan Islam di asia tenggara. Kebetulan
berdasarkan beberapa analisa, Indonesia dianggap sudah kekurangan kekuatan,
karena berbagai permasalahan internal dalam pemerintahan dan hukum.
Post a Comment