Saya
lahir di akhir tahun tujuh puluhan. Tepat dipertengahan tahun 1979. Periode
yang istimewa. Karena kami generasi peralihan. Generasi yang sempat merasakan
perubahan besar dalam kehidupan. Kami generasi evolusi peradaban. Generasi
evolusi gaya hidup. Generasi analog terakhir, dan generasi digital pertama.
Saya
sempat merasakan ketika permainan tradisional atau permainan lokal semacam patok
lele[1],
galah panjang, batalion tin, main godok, dan banyak lagi permainan
lainnya, perlahan mulai tergusur dengan permainan generasi baru. Awalnya dari
Atari, spica, nintendo, dingdong di pasar, gameboy, hingga ke play station.
Perubahan
adalah dunia yang kami generasi awal delapan puluhan rasakan. Hal rutin dalam
hidup kami. Ketika berbagai benda baru dan teknologi canggih muncul dan
mempengaruhi kehidupan. Hal yang semula keren berubah menjadi ketinggalan
zaman. Siklus tanpa henti. Dunia kami adalah dunia yang melompat-lompat.
Salah
satu yang paling membekas, adalah cerita dari kakek saya. Tentang presiden
republik Indonesia yang pertama. Soekarno. Dua cerita yang bertolak belakang.
Kenyataan yang tidak akan ditemukan dalam buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.
![]() |
Source Picture: ayokeaceh.wordpress.com/ |
Presiden
Soekarno datang ke Banda Aceh. Tahunnya saya tidak pasti. Tapi karena ketika
itu kakek saya masih muda, dan ayah saya masih remaja, maka kisaran waktunya
adalah tahun 50’an. Rakyat berdesakan memenuhi jalan, menunggu mobil satu dari
dwi tunggal, proklamator bangsa, melintas di jalan yang belum lagi beraspal.
Bukan semata soal yang datang itu presiden. Tapi saat itu hiburan sangat minim.
Jadi bila sekelas tukang obat yang menjual semacam tepung entah apa, yang
katanya bisa menyembuhkan dari panu sampai penangkal angin duduk[2],
bisa jadi tontonan satu kampung. Apalagi bila yang datang itu presiden.
Tumpah
ruah warga. Memenuhi jalananan, berlari dibelakang mobil presiden. Hingga ke
tempat yang disediakan untuk mendengarkan pidato sang pemimpin bangsa itu.
Panggung kayu bertingkat, yang bergoyang tapi ajaibnya tak ambruk menampung
sekian banyak orang.
Disekeliling,
orang menaiki atap rumah. Berdesakan di jendela lantai dua rumah atu toko diseputaran
lapangan itu. Mengintip dibalik pagar tinggi. Bahkan bergantungan memenuhi
cabang pohon-pohon besar yang saat itu masih banyak. Semuanya hadir untuk
datang melihat dan mendengar Soekarno berbicara. Dan terkesima.
Sunyi.
Semua terpesona. Susunan kata terpilih. Suara yang menggelegar pada saat yang
tepat, lalu melembut pada saat yang lebih tepat lagi. Yang berdiri ditengah
podium itu bukan cuma politisi, tapi juga seniman kata yang luar biasa. Gerak
tubuhnya, matanya yang melihat kedepan dengan semangat menyala, tangannya yang
terancung kedepan menunjuk langit. Dan dipuncaknya ketika ia meneriakkan
merdeka.
Khalayak
ramai mengila dalam gelora semangat. Yang tak tahu apa-apa, juga ikut latah
meneriakkan merdeka. Semua larut dalam gelora kebanggaan dan kecintaan pada
negeri yang baru lahir ini, membuncah di jiwa rata-rata warga negeri.
Kemerdekaan
memang masih baru, pemberontakan masih ada dimana-mana. Tapi rata-rata, hampir
semua, merasakan bangga melihat presiden kita berdiri tak jauh dari rakyatnya.
Meskipun
cerita kedua dari kakek membuat saya merasa sedih. Karena itu cerita
penghianatan. Janji yang diingkari. Karena sang presiden, datang memohon
bantuan. Dengan merendahkan kepala menunduk meminta dukungan dari pemimpin
rakyat Aceh. Yang dijawab dengan gempita oleh rakyat Aceh.
Saat
itu ibu-ibu meloloskan gelang ditangan, cincin dijemari, giwang diujung
telinga, kalung dileher, bahkan berlari pulang membuka lemari dan mengambil
perhiasan emas. Mengumpulkan emas dengan penuh bahagia, demi negara. Dan kelak
akan menjadi pesawat Dakota, pesawat kenegaraan pertama di negeri yang baru
lahir, pesawat yang menyandang RI-1.
Seperti
saya tuliskan sebelumnya, cerita kedua ini cerita sedih. Karena alih-alih
memenuhi janji. Sang presiden malah melebur Aceh menjadi satu dengan Sumatera
Utara. Menghempaskan rakyat Aceh, dan memicu pemberontakan. Meski kelak Aceh
dianugerahi Daerah Istimewa, tapi sejak pemberontakan pertama meletus, Aceh tak
pernah damai, darah dan kehancuran terus mewarnai wajah ujung barat Indonesia
ini.
Sisi
pahit yang sering disembunyikan dalam sejarah.
Meskipun
begitu, dulu, ada masa ketika kita bangga dengan presiden kita. Ketika kita
bangga dengan negeri kita. Ketika kita bangga menjadi Indonesia.
Tapi
sekarang. Bangsa
ini diambang kehancuran. Presiden kehilangan wibawa. Rakyat terpecah saling
antara saling caci, saling benci, hingga ke mereka yang tak lagi mau perduli.
Yang penting masih bisa hidup dan makan, meskipun menjerit dalam hati karena
hidup sepertinya semakin sulit.
Yang
satu mencela yang lain. Fanatisme buta. Ada yang bela partai, ada yang serang
partai. Logika hilang. Tak perduli pada fakta. Tak perduli dengan kenyataan.
Yang penting membela, tak soal mana yang salah, mana yang benar. Lupa pada
solusi baik.
Seolah
hasil alam negeri ini yang dicuri asing, tak bisa kita rebut lagi, padahal
sebenarnya ada cara. Seolah bangsa ini hanya skumpulan orang bodoh, hanya
gara-gara ketika orang cerdas jadi pejabat negara, sebahagian dari mereka
mendadak tak cerdas lagi[3].
Seolah ketika tim bola kaki kita yang sebenarnya hebat, tapi kalah gara-gara
kelelahan akibat kebanyakan tanding persahabatan, maka punahlah prestasi
bangsa. Padahal ada tim bulu tangkis yang menanjak naik, ada anak muda yang
menang penghargaan internasional dibidang sains.
Dulu
kita pernah bangga dengan bangsa ini. Tapi sekarang, kita adalah bagian dari
generasi yang dengan suka cita mencari keburukan, acuh pada kebaikan dan
potensi. Kita umbar semuanya kemana-mana, sehingga akhirnya kita bingung
sendiri, sepertinya tak ada yang baik lagi di bangsa ini. Maka bencilah kita,
lalu akhirnya menyerah dan tak perduli.
Sebenarnya,
kawan. Saya tak tahu apa yang anda inginkan. Tapi jujur saja bukan hal seperti
sekarang ini yang saya inginkan.
Saya
ingin bisa bangga, berdiri menatap dunia. Sambil menunjuk hamparan negeri kaya
hasil alam, sambil menunjuk prestasi anak bangsa. Lalu dengan lebih bangga lagi
bicara, sambil pelan menepuk dada.
" Saya
orang Indonesia, dan saya bangga menjadi Indonesia." [4]
[1] Salah
satu nama permainan tradisional, nama bisa berbeda diberbagai daerah. Nama ini,
seperti kami menyebutnya di Aceh. sebatang kayu kecil diletakkan mendatar dalam
lubang melintang diats kayu yang lebih panjang, lalu dicungkil atau dipukul
dengan kayu pemukul yang lebih panjang lagi, kemudian dihitung nilainya
berdasarkan jarak ke lubang, semakin jauh semakin bagus.
[2] Sebutan
untuk Serangan Jantung, jangan tanya kenapa itu sebutannya.
[3] Untung
hanya sebahagian.
[4] Dan kami
bukan bangsa bodoh peminta-minta, apalagi teroris.
Post a Comment