
Pintu Kemana Saja Milik Pribadi, itu nama yang diam-dam saya lekatkan bagi lemari buku yang tak terlalu mewah milik saya. Buku-buku itu adalah pintu portabel yang memberi kesempatan saya untuk mengunjungi berbagai tempat, di dunia nyata maupun fantasi, ataupun berjumpa dengan berbagai tokoh (sekali lagi, nyata maupun fantasi).
Bisa menyusuri uniknya samudra dalam dan petualangan bersama Kapten Nemo, dan kapal selam canggihnya. (Twenty Thousand Leagues Under the Sea, Jules Verne)
Menyusuri sudut-sudut tidak populer amerika, dan terlibat dalam konspirasi balas dendam para dewa yang terlupakan yang tercabut akarnya dari tanah leluluhr ketika arus migrasi membawa mereka ke benua yang ternyata tak seindah ceritanya. (American Gods, Neil Gaiman)
Berjalan bersama Agustinus Wibowo menjelajah berbagai negara, menyaksikan berbagai sisi tersembunyi negara-negara berakhiran 'Stan' yang tidak akan diberitakan media. (Garis Batas, Agustinus Wibowo)

Menyelami dalamnya pemikiran dan kata-kata indah Ustadz Salim. A. Fillah, di beragam bukunya. Dari Nikmatnya Pacaran Sebelum Pernikahan, Gue Never Die, Saksikan Aku Seorang Muslim, hingga Dalam Dekapan Ukhuwah. Tidak lupa buku yang sempat buat ustadz Salim A. Fillah tertawa saat saya minta tanda tangan, Bahagianya Merayakan Cinta, edisi pertama. Tulisan beliau juga kemudian memperkenalkan saya dengan Ustadz Hasan Al Banna, Syaikh Yusuf Qaradhawi, Moh. Iqbal, dan banyak lagi nama lainnya.
Sederhana, tapi semuanya menjadi moment indah. Portable traveling, jalan-jalan menjelajah dunia nyata dan fantasi, menyusuri berbagai hal, belajar dan menikmati waktu privat bersama para ahli, para motivator, para ustadz, para pemikir dahsyat, para pemegang kunci dunia imajinasi.
Pintu ajaib, milik pribadi..
Banyak kali bukunya :D
ReplyDeleteAlhamdulillah Qie, lumayanlah. Kebetulan kamera terbatas, 2/3 rak lainnya ga bisa difoto hehehehe -_-v
Delete